NGAJI YESS!!! TERJEMAH
OKE!!!
Kemarin,
tepat pada hari Senin, 05 November 2018, dosen pengampu saya yakni Bpk. Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan asisten beliau yakni Ibu Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
dan Ibu Baiti Rahmawati, S.Sos menghadirkan atau mengundang pemateri tilawati Al-Qur’an yang langsung
didatangkan dari Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya untuk
membimbing kelas E4 dari prodi Ilmu Komunikasi. Dibimbing langsung oleh Bpk.
Drs. H. Ali Muaffa, Bpk. Hari Susandi, S.Ag, dan Bpk. Toha Mahsun, S.Ag.
Selang
beberapa hari yaitu hari kedua pada hari Senin, 12 November 2018, didatangkan
lagi tentang materi terjamah Al-Qur’an dari
Lembaga Pendidikan dan Pengkajian Ilmu Al-Qur’an (LPPIQ). Lembaga ini
dipelopori oleh Prof. KH. Roem Rowi, M.A dengan tujuan agar masyarakat bisa
mempelajari Al-Qur’an dengan mudah.
Disini
saya akan membahas sedikit tentang metode
tilawati Al-Qur’an dan menerjemah Al-Qur’an dengan mudah. Sebelumnya saya
akan menjelaskan apa itu metode tilawati ? Secara etimologi, metode
berasal dari kata method yang berarti
suatu cara yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan dalam mencapai
suatu tujuan. Membaca Al-Qur’an (tilawatul
Qur’an) adalah salah satu ibadah yang banyak mengandung keutamaan. Ia
adalah pintu gerbang meraih petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Hadits
dari Utsman bin Affan r.a, dari Rasulullah Saw bersabda: Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya
(mengajarkannya) (HR. Bukhori).
Dasar
membaca dalam Al-Qur’an sudah diterangkan bahwasanya membaca adalah langkah untuk
memahami sesuatu. Dalam Al-Qur’an dijelaskan, Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha
Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. al ‘Alaq [96]: 1-5).
Teknik yang digunakan
dalam pembelajaran Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
A.
Klasikal
Klasikal
adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara bersama-sama atau
kelompok dengan menggunakan alat peraga. Manfaat klasikal peraga adalah agar
santri terbiasa dengan bacaan yang dibaca sehingga santri mudah untuk
melancarkan bacaannya.
Dalam menerapkan
klasikal peraga diatas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.
Alokasi waktu klasikal 15 menit tidak
boleh kurang.
2.
Guru harus ikut membaca, karena sebagai
komando agar santri ikut membaca.
3.
Guru hendaknya bersuara jelas dan
lantang untuk menggugah semangat belajar santri.
B.
Baca Simak
Baca
simak adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara membaca
bergiliran yang satu membaca yang lain menyimak dengan durasi waktu 30 menit.
Manfaatnya adalah selain santri tertib dan tidak ramai serta pembagian waktu
setiap santri adil.
Penerapan Teknik Baca
Simak, diantaranya:
1.
Guru menjelaskan pokok bahasan pada
halaman yang akan dibaca.
2.
Diawali dengan membaca secara klasikal
pada halaman yang akan diajarkan pada pertemuan tersebut.
3.
Santri membaca tiap baris bergiliran
sampai masing-masing santri membaca 1 halaman penuh dalam bukunya.
C.
Evaluasi Harian
Evaluasi
adalah penilaian yang dilakukan setiap hari oleh guru untuk menentukan kenaikan
halaman buku tilawati secara bersama dalam satu kelas.
Pelaksanaanya sebagai
berikut:
1.
Halaman diulang apabila santri yang
lancar kurang dari 70%
2.
Halaman dilanjutkan apabila santri yang
lancar min. 70%
Salah satu
masalah penting yang dihadapi guru Al-Quran adalah mengatasi ketidak-tertiban
santri selama proses belajar mengajar dan mengatasi ketidaklancaran mengaji.
Ujung persoalan tersebut berakibat mutu bacaan santri makin merosot dan waktu
belajarnya semakin lama bahkan tidak sedikit santri drop out sebelum tartil dan khatam baca Al-Quran.
Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam
pembelajaran Alquran, maka lembaga pengelola Al-Quran yayasan Nurul Falah
mengembangkan metode mengajar Al-Quran “TILAWATI”. Tilawati adalah buku metode
belajar mengajar baca Al-Quran dengan pendekatan ”Klasikal dan Individual
Secara Seimbang” diharapkan dapat mengurangi bahkan mengatasi
persolan yang dihadapi para guru. Disusun praktisi dan motor penggerak Taman
Pendidikan Al-Quran Indonesia. Peruntukan buku ini semula memang untuk konsumsi
anak usia SD dan sederajat namun pada kenyataannya metode ini tidak terlalu
sulit diterapkan kepada anak TK-A maupun B, demikian pula untuk anak SMP, SMU,
Mahasiswa dan Orang Tua dalam kenyataannya semakin cepat kemampuan kelancaran
membaca.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Tilawati
1. Disampaikan dengan praktis.
2. Menggunakan lagu rost.
3. Menggunakan pendekatan klasikal dan
individual secara seimbang.
Selanjutnya
yaitu pada penterjemahan Al-Qur’an. Bagaimana menerjemahkan Al-Qur’an dengan
mudah ? Mari simak artikel saya dibawah !
Dalam rangka merintis gerakan pemahaman dan pengamalan
Al-Qur’an maka lembaga pendidikan dan pengkajian ilmu Al-Qur’an (LPPIQ) membuat
program terjemah Al-Qur’an. Terjemah Al-Qur’an ini merupakan metode untuk
mempelajari bahasa Al-Qur’an sekaligus tatabahasa arab dengan cara sederhana
mudah dan praktis melalui surat al Baqarah, diharapkan orang-orang atau umat
Islam menguasai suatu materi kajian tertentu dalam setiap paket yang dapat
dijangkau dalam alokasi waktu 26 pertemuan.
LPPIQ Surabaya adalah lembaga yang independen non
proft bergerak dalam bidang pendidikan dan pengajaran terjemah Al-Qur’an.
Lembaga ini berdiri sejak tahun 1993 dan telah memiliki Operational back up yang memadai untuk berkembang secara optimal di
masyarakat. Aset LPPIQ yaitu suatu sinergi yang terdiri atas tim ahli dalam
Al-Qur’an. Asatidz asatidzah/ instruktur yang terlatih dan berpengalaman dalam
pengajaran Al-Qur’an. Modul/ paket belajar dan mengajar Al-Qur’an yang siap
saji. Hal ini dilaksanakan diberbagai masjid, lembaga dakwah, dan
majelis-majelis ta’lim. Keberadaan LPPIQ ini diharapkan mampu memasyarakatkan
Al-Qur’an dan meng-Al-Qur’ankan masyarakat dalam format yang lebih nyata dan
riil.
Metode pembelajaran terjemah Al-Qur’an, secara umum
untuk tiap-tiap paket dilaksanakan dalam 3 tahapan, yaitu pendahuluan
(mukaddimah), penyajian materi, evaluasi dan penutup dengan rangkaian kegiatan
sebagai berikut:
A. Mukaddimah
1.
Ustadz
membuka majlis dengan salam.
2.
Ustadz
mengabsen peserta.
3.
Ustadz
memberikan pengantar berupa motivasi pentingnya mengkaji Al-Qur’an atau memberikan penjelasan paket materi yang
hendak diajarkan (pertemuan pertama).
4.
Untuk
pertemuan selanjutnya ustadz memberikan evaluasi materi kajian yang lampau.
B. Penyajian Materi
1.
Ustadz
mengantar materi yang hendak diberikan.
2.
Ustadz
membacakan ayat-ayat Al-Qur’an secara tartil sesuai dengan paket kajian, atau
menunjuk salah satu peserta yang dianggap mahir membaca tartil Al-Qur’an atau
dibaca bersama-sama.
3.
Untuk buku
paket II, III dan seterusnya, ustadz menunjukkan/ menjelaskan materi tambahan
pada tiap-tiap kalimat (kata) sesuai dengan isi materi kajian.
C. Evaluasi
1.
Ustadz
memberikan evaluasi kepada para peserta secara bergiliran dengan menunjuk mulai
dari peserta yang paling pandai atau menguasai materi dan diakhiri peserta yang
lemah, dengan cara menirukan bacaan atau uraian penjelasan tiap-tiap kalimat
yang ada pada buku paket.
2.
Ustadz
memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengajukan pertanyaan yang
belum jelas.
D. Penutup
1.
Ustadz
memberikan kesimpulan dan pesan-pesan berupa penekanan kajian yang baru
dibahas.
2.
Ustadz
menutup kajian dengan bacaan do’a majlis atau hamdalah serta mengakhiri dengan
salam.
Dengan metode demikian akan memudahkan orang-orang
yang belajar Al-Qur’an untuk menerjemahkannya.
Prof. Dr.
Moh. Ali Aziz, M.Ag penulis buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, beliau menulis
dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Hidup Masih Koma”, beliau berkata,
“Hidup masih
koma. Kamu wajib bersyukur menjadi orang baik-baik sekarang berkat hidayah
Allah. Tapi kamu harus ingat, hanya malaikatlah yang sudah titik: pasti baik
selamanya, karena mereka tidak memiliki nafsu. “...dan (para malaikat itu)tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintah-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.
at Tahrim[66]: 7).
Hidup masih
koma. Esok hari masih penuh spekulasi. Maka bacalah ihdinash shirathal mustaqim (Wahai Allah tunjukilah kami jalan yang
lurus) dengan penuh penghayatan dalam setiap shalat. Baca juga do’a, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan
hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami” (QS.
Ali Imran [3]: 8). Atau bacalah do’a dari Rasulullah Saw, “Wahai Allah, sesungguhnya saya memohon hidayah, takwa, kelapangan, dan
rasa cukup” (HR. Muslim).”
Jadi
kesimpulannya kita harus tetap berusaha, berdo’a serta tawakal untuk menjadi
orang yang setiap hari mengalami perubahan menjadi yang lebih baik dari hari
kemarin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar